retrospection

#memulai; Resolusi tanpa Retrospeksi?

Ada apa dengan tahun baru? Mengapa semua seakan begitu spesial. Banyak orang yang turut merayakannya. Seluruh penjuru dunia menyambutnya dengan versi yang berbeda. Begitu ramai merencanakan untuk bertemu, barbeque misalnya. Banyak orang yang rela bergadang bersama keluarga dan kolega. Kembang api pun turut mewarnai seolah menjadi simbol datangnya hari yang didamba. Tidak lupa, posting dan story instagram dibanjiri ucapan selamat dan semangat beresolusi.

Resolusi? Mengapa ada resolusi? Haruskah beresolusi?

Kalo menurut KBBI resolusi adalah putusan atau kebulatan pendapat. Jadi sebenarnya setiap hari itu kita beresolusi karena harus memutuskan apa yang akan kita lakukan. Kalo menurut Mba Triana (Founder Griya Schzofren) dalam 24 jam kita pengatur kebijakan dari apa yang kita lakukan, harus disadari apakah kebijakan itu sudah meresap ke diri kita untuk membuat kita mengupgrade diri, apakah tidak berdampak sama sekali? Namun, mengapa resolusi itu selalu menjadi semangat di awal tahun?

Berdasarkan laman lifestyle.kompas.com, David Ropeik seorang penulis “How Risky it, Really?” resolusi membawa orang pada substansi bertahan hidup. Resolusi awal tahun menjadi harapan dan keinginan orang untuk mengontrol apa yang akan terjadi di tahun itu. Tidak salah banyak orang membeli dan men-download planner book untuk menyusun rencananya ke depan. Maka, benar saja sebenarnya fitrahnya manusia memang selalu berhijrah dan selalu berusaha mengupgrade diri.

Realistiskah resolusi tanpa retrospeksi?

Setiap orang memang bisa menuliskan resolusi. Namun terkadang melupakan restropeksi sebagai acuan menyusun resolusi.

Retrospeksi menurut KBBI artinya kenangan kembali atau pandang balik. Adalah sebuah kondisi kita memanggil kenangan-kenangan yang telah terjadi. Dalam hal ini mengevaluasi resolusi yang telah kita buat di tahun sebelumnya. Pencapaian maupun kegagalan akan selalu menjadi pelajaran karena apa yang terjadi dalam hidup kita adalah tentang bagaimana kita ‘merespon’ pada hal tersebut. Menurut Bapak M. Syafi’i El Banthanie bahwa kita selalu dihadapkan pada dimensi masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Tanpa disadari, alam bahwa sadar kita selalu melihat apa yang telah kita lakukan dan apa yang akan terjadi nanti. Maka, sebelum kita melihat ke depan seyogyanya kita mempelajari dan membaca pola-pola kehidupan yang telah terjadi di masa lalu, sehingga tugas kita di masa sekarang adalah merekayasa pola agar relevan diimplementasikan di masa depan. Yap! Jadi bukan sekadar menulis resolusi tapi tentang retrospeksi yang harus didalami untuk dapat menyusun resolusi yang relevan dan realistis untuk digapai.

Mari, beretrospeksi sebelum beresolusi!

Rektrospeksi Nanas……(berlanjut #1)

Tasikmalaya, 2 Januari 2019

Nanas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *