retrospection

Berteman Sebatas ‘Kebutuhan’?

Menjalin hubungan bukan harus selalu bertanggung jawab akan kebahagiaan orang lain. Sejatinya, kita bisa respect dan membahagiakan orang lain sepenuhnya ketika kita sudah mencintai diri sendiri dengan memahami batasan akan value yang kita pegang.

Semakin dewasa rasanya memang kita semakin selektif dalam memilah teman dan  membatasi diri kita. Pertemanan itu berawal dari satu hal yang sama dalam diri kita dan orang lain. Misalnya, karena kita satu kampus, satu hobi, atau bisa jadi berteman karena dipertemukan pada suatu tempat tertentu dan memutuskan menjalin komunikasi. Yap, itulah teman. Dipertemukan dalam ‘satu’ kondisi yang sama, dipertemukan tentu tidak harus secara langsung.

Lalu, hubungan pertemanan itu seperti apa, sih?

Jujur, Nazla sendiri baru menyadari bahwa Nazla masih belum bisa memahami benar-benar bagaimana menjalin sebuah hubungan pertemanan yang benar. Prinsip yang Nazla pegang selama ini adalah berteman dengan sebisa mungkin dapat memberikan manfaat kepada orang lain, baik secara moril dan materil. Ya pokoknya bermanfaat aja, kalo bisa sih meringankan urusan orang lain.

Selama ini Nazla selalu menikmati hubungan dengan orang-orang sekitar Nazla. Ya meskipun mereka hanya sekadar chat untuk menanyakan cara mengerjakan tugas atau meminta jawaban sekalipun. Nazla merasa diakui sebagai teman mereka. Hingga lama kelamaan rasanya banyak yang bergantung. Hal itu Nazla dengar dari bahasa teman-teman Nazla sih. “Ah tenang ada Nazla aman”, “Tanya aja ke Nazla”, “Pokok’e onok Nazla pasti beres wes”. Awalnya sih, seneng-seneng aja karena berarti setidaknya keberadaan Nazla tidak merugikan teman-teman Nazla.

Ternyata lama kelamaan hal itu bikin Nazla capek sendiri juga. Bahkan saat Nazla jatuh sakit pun yang ditanyakan adalah tugas. Hahaha. Ya gapapa sih, tapiiiiii gimana ya. Hingga akhirnya ada titik di mana Nazla merasa sikap Nazla ini salah. Sikap yang selalu bertanggung jawab akan kebahagiaan orang lain, sikap yang tak ingin mengecewakan orang lain dengan mudahnya mengiyakan jika diminta bantuan. Sedangkan, salahnya Nazla belum memahami benar-benar batasan diri Nazla itu seperti apa. Kurang baiknya lagi, sikap membuat orang tergantung pada kita adalah hal yang akan merugikan orang lain. Tidak membuat mereka berkembang dengan cara mereka.

Kualitas hubungan pertemanan itu semakin terlihat di masa pandemi ini. Komunikasi secara daring membuat kita semakin mengotak-kotakan mana saja teman yang sekadar menghubungi untuk menanyakan tugas dan karena ada keperluan saja atau benar-benar tulus meski hanya sekadar mengomentari status kita.  Hingga suatu waktu, saat itu Nazla left grup karena kehapus, sih. Teman-teman menanyakan alasan left dan ketika Nazla masuk grup yang pertama Nazla terima adalah “Kalo Nazla gak ada, siapa yang bantu aku ngerjain tugas A”, “Kalo Nazla tiba-tiba pindah, ntar siapa yang ngerjain tugas B.” dan bahasa-bahasa seamacam itulah wkkwk. Nazla gak tau ini bercanda atau serius ya. Nazla pun sontak menjawab, “Jadi kalian berteman sama Nazla karena itu?”. Jawaban yang Nazla terima adalah “Lah baru sadar ya” “Wah ketauan, deh”, “’Aku cuma chat Nazla kalo ada tugas aja”, dan rata-rata jawaban ‘mengiyakan’. Untungnya saat itu mood Nazla sedang baik dan Nazla menerima jawaban mereka karena Nazla meyakini bahwa Nazla pun dalam hal lain membutuhkan mereka. It’s okay.

Tapi, apakah berteman karena ‘membutuhkan’ itu benar?

Akhirnya, kemarin Nazla membuka question box di instagram meminta pendapat teman-teman untuk menjawab keresahan Nazla ini dengan pertanyaan “Apakah hubungan pertemanan itu selalu berdasar atas saling membutuhkan?”. Ternyata jawaban mereka benar-benar menarik. Ternyata 50% berpendapat ya dan setengahnya tidak.

Dengan jawaban-jawaban mereka membuat Nazla semakin terbuka akan hal ini. Menurut Nazla tidak ada jawaban yang benar dan salah dalam hal ini. Berteman karena saling membutuhkan? Kalo kata keponakan Nazla, “Al-Insanu Madaniyun Bi Tob” artinya setiap manusia memang saling membutuhkan. Rata-rata yang berpendapat bahwa pertemanan itu karena saling membutuhkan itu berakar dari karena ya memang kita ini makhluk sosial. Seorang introver pun membutuhkan teman diskusi untuk menyampaikan pemikiran mendalamnya setelah berkontemplasi. Apalagi yang cenderung ekstrover membutuhkan banyak orang untuk me-recharge energinya. Ada juga beberapa teman yang berpendapat bahwa ‘saling membutuhkan’, simbiosis mutualisme dan saling bergantung itu bisa menjadi awal dari menjalin hubungan pertemanan yang baik. Dengan sama-sama merasa saling membutuhkan akhirnya dapat menjalin keharmonisan, kenyamanan dan saling menjaga. Bahkan ada beberapa yang merasa ketika dia dibutuhkan berarti merasa eksistensinya ada.

Namun, banyak juga yang tidak setuju dengan pernyataan bahwa jika berteman hanya karena ‘kebutuhan’. Tidak salah juga. Kembali pada sudut padang melihatnya. Bagi mereka yang tidak setuju adalah karena hubungan pertemanan yang baik tidak harus selalu karena saling membutuhkan. Tapi jika memiliki frekuensi yang sama, hobi yang sama dan saling mendukung, nyaman ketika mengobrol dan bersama, saling mengasihi bukan saling ‘meminta’, dan saling peduli. Ada juga yang ketus, ‘jika hanya saling membutuhkan namanya bisnis’. Tentu menjadi bahan evaluasi diri bagaimana kita selama ini menjalin hubungan dan bersikap kepada orang lain. Tapi, kembali lagi ya jika dipikir-pikir memiliki teman dengan frekuensi yang sama adalah kebutuhan juga bukan? Berarti balik lagi ya secara tidak langsung membutuhkan dan bergantung kepada orang lain adalah manusiawi.

Berarti, saling membutuhkan itu wajar?

Dari kesimpulan yang Nazla ambil sih begitu. Secara tidak langsung manusia itu pasti membutuhkan orang lain meski bukan dengan meminta bantuan fisik, tapi terlebih secara psikis. Sahabat dekat sekalipun kita membutuhkan waktu dia untuk mendengarkan cerita kita bukan?

Nah, jadi apa yang salah dengan saling membutuhkan dalam berteman?

Ada satu orang teman yang menjawab, “Saling membutuhkan bukan saling memanfaatkan”. That’s the point. Saling membutuhkan berbeda dengan saling memanfaatkan. Jika kita datang saat merasa sulit saja kepada orang lain dan hanya menggunakan kelebihan dia untuk memenuhi kebutuhkan kita tanpa respect itu artinya kita hanya memanfaatkan, bukan? Artinya perlu ada keseimbangan dalam berteman dengan memahami kelebihan dan kekurangan yang dimiliki meskipun kadang kita sendiri tidak sadar bahwa kita terjebak dalam ‘memanfaatkan atau dimanfaatkan’.

Setting Boundaries, agar Tidak Terjebak

Ada teman Nazla yang jawab, “Tidak apa-apa saling membutuhkan tetapi ada batasnya”. Mengenai batas ini Nazla jadi teringat pendapat influencer Gitasav dalam segmen beropini di Youtube Channelnya yang berjudul “Pentingnya Memiliki Batasan” atau Setting Boundaries. Gitasav menyampaikan menurut Dr. Henry Cloud bahwa boundaries itu seperti rumah, ada pagar, pintu, ruang tamu dan kamar. Ada orang-orang yang diizinkan hanya sebatas didepan pagar hingga ada yang diperbolekan masuk ke kamar. Hal ini memberikan physical space, emossional space dan spiritual space untuk diri kita. Batasan ini tentu berbeda-berbeda, tergantung siapa orang yang kita hadapi. Significant other tentu memiliki batasan yang berbeda dengan teman social media kita. Batasan ini dibuat untuk membatu kita mengetahui dan menyinkronkan antara posisi dan keinginan kita dengan orang lain. Ini juga menjadi salah satu cara kita mencintai diri sendiri karena akhirnya kita dapat menjalani hidup kita lebih otentik sesuai dengan value yang kita pegang.

Seperti yang sudah di-mention bahwa membuat batasan adalah cara kita mencintai diri sendiri. Kalo kata temen Nazla, “Sebelum membahagikan orang lain harus membahagiakan diri sendiri dulu. Bukan berarti egois.” Karena sebagai manusia pun kita memiliki otoritas terhadap diri sendiri. Dengan membuat batasan kita juga bisa memahami dan mengantisipasi orang-orang yang hanya ingin memanfaatkan, memanipulasi bahkan menipu kita. Lagi, karena kebahagiaan orang lain bukan tanggung jawab kita. Sejatinya, kita tidak akan bisa respect dan membahagiakan orang lain sepenuhnya jika jika masih belum bisa mencintai diri kita sendiri. Menurut Gitasav, memiliki batasan akan membangun hubungan yang sehat, karena berhubungan adalah tentang bagaimana ‘diri dan kepribadian kita’ bukan tentang ‘apa yang kita berikan’ kepada orang lain. Karena terkadang kita berteman karena dia ringan tangan, misalnya. Dan bagi kita yang cenderung people pleaser terkadang takut orang lain kecewa bahkan meninggalkan kita. Padahal, dengan memiliki batasan kita juga akan tau siapa-siapa saja yang menghargai kita. Sehingga kita bisa hidup lebih bersahaja tidak tergantung pada pemikiran dan perasaan orang lain pada kita atau bahkan mood mereka yang mempengaruhi bagaimana kita beraktivitas.

Cara kita membuat batasan dalam hubungan adalah dengan menemukan value dan prinsip apa yang kita pegang dengan terus bertanya pada diri sendiri apa yang kita sukai dan tidak serta apa yang membuat kita nyaman dan tidak nyaman dan selanjutnya kita perlu menganalisis mengapa value itu penting bagi kita. Lalu, kita perlu mengkategorikan batasan yang kita buat untuk selanjutnya diaplikasikan dalam hidup kita. Tentu, yang terpenting juga kita perlu mencari support system, orang-orang yang menerima kita, bukan orang yang selalu meminta kita memenuhi keinginan mereka.

Maka, memang benar jika kita berteman karena saling membutuhkan sebagaimana fitrah manusia sebagai makhluk sosial, tapi bukan untuk ‘saling memanfaatkan’. Dalam hal ini, kita perlu membuat batasan hubungan kita terhadap orang lain, sehingga kita akan bisa mengendalikan diri kita sepenuhnya bukan selalu atas ‘keinginan’ orang lain. Hal itu akan membentuk self-awareness, self-respect dan self-love. Karena sejatinya, kita tidak akan bisa selalu menjadi apa yang orang lain inginkan dan tidak akan bisa menghargai mereka sepenuhnya jika kita masih belum memahami dan mencintai diri kita sendiri.

tentang pentingnya membuat batasan bisa ditonton di youtube channel Gitasav di bawah ini ^^

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *