retrospection

Mengenal Diri untuk Berdamai

“Kemerdekaaan adalah ketika bisa berdamai dengan ‘setiap’ tantangan kehidupan yang datang. Sehingga menyadari apa yang dirasakan, dipikirkan dan dilakukan. Hingga pada titik memahami bahwa kemerdekaan tidak hanya tentang diri sendiri, tetapi bagi sesama manusia, makhluk lain di sekitar dan bumi tempat berpijak.”

ant

Pernah gak sih tiba-tiba nangis sendiri tanpa sebab? Merasa marah dan benci saat mencium aroma minyak wangi orang lain yang mengembalikan memori kepahitan masa lalu? Setiap orang pasti memiliki masa lalu, yang indah maupun pahit. Nyatanya benar, jika roda kehidupan akan terus berputar. Menariknya, terkadang kenangan masa lalu yang pahit itu lebih membekas dalam hati dan pikiran kita. Setiap orang memiliki masalah, waktu dan cara menghadapi masalah yang berbeda. Maka, tidak salah jika banyak orang yang masih merasa terjebak dalam masa lalunya. Tidak perlu disalahkan atau disesali, cukup disadari dan diapresiasi bahwa kini kita masih hidup dan bertahan dari masa lalu adalah sebuah pencapaian.

Unfinished Business

Terjebak dalam masa lalu. Dalam istilah psikologi erat kaitannya dengan unfinished business. Hal tersebut terjadi saat kita merasa tidak nyaman dengan peristiwa yang terjadi di masa lalu. Masih merasakan sakit, perasaan bersalah, marah, malu, sedih, dan merasa menyesal saat memori masa lalu kembali dalam ingatan. Itu adalah tanda-tanda adanya unfinished business dalam kehidupan kita.

Terjebak dalam Pikiran Positif

“Berpikirlah positif! Semua pasti ada hikmahnya.”

Seperti sebuah kalimat yang baik bukan? Memang sangat baik jika disampaikan dan diterima di waktu yang tepat. Kondisi mental yang sedang terpuruk akan cukup sulit menerima hal-hal ‘katanya’ positif secara instan. Emosi negatif menuju positif itu terlalu jauh, setiap orang memiliki akselerasi yang berbeda untuk berpindah, minimal menuju netral dulu deh. Oleh karena itu, mengapa banyak orang yang akhirnya terjebak dalam pikiran positif. Tanpa disadari, sedang berusaha melawan perasaan kecewa, mengubur kesedihan dan membungkam kemarahan. Saat kondisi mental serunyam itu, bagaikan menutup setumpukan jarum menggunakan selembar karpet. Menjalani hari dengan duduk di atas karpet yang menyembunyikan setumpuk jarum nyatanya tidak semulus itu. Pada akhirnya jarum itu akan menusuk tubuh kita sendiri. Masalah yang terakumulasi akhirnya bagaikan bom waktu yang menghantam kehidupan lebih keras. Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa berpikir positif bisa sangat berakhir kekecewaan? Pikiran positif yang instan tadi tanpa disadari membuat kita menaruh ekspektasi besar bahwa akan ada kejutan di balik sebuah kejadian. Sehingga, setiap realita yang tak seindah idealita menjadikan kita cenderung mengutuk keadaan dan menyalahkan diri sendiri. Parahnya lagi, saat kondisi kalut tersebut, kita akan kehilangan rasa empati. Bertumbuh dengan menanam rasa apatis dan ambisi, mengejar prestasi hanya karena kepuasan diri dan meningkatkan kualitas diri hanya karena mengais validasi. Terlihat cuek dan masa bodo dengan setiap kondisi, tapi terlarut dengan pemikiran yang tidak bisa terdefinisi. Berpikir positif itu baik, tetapi bukan di tahap pertama saat kita terpuruk. Mencoba berpikir positif saat hati penuh perasaan negatif itu membohongi diri sendiri. Hanya membenturkan pikiran dan hati. Ternyata itu sebuah Toxic Positivity, keadaan menjaga pikiran dan sikap untuk tetap positif dengan menolak hal yang memicu emosi negatif. Tanpa sadar terus ditanam dan disiram setiap hari. Ternyata saat dituai, perasaan itu lebih menjatuhkan ke lubang yang lebih dalam. Berdampak pada kita yang terlena hingga tidak mengenal diri sendiri dan tidak peduli dengan perasaan sendiri. Hanya memaksa menutup lembaran hitam di masa lalu.

Pentingnya Significant Other

Significant other adalah orang yang ada di sekitar kita yang memiliki peran krusial dalam pembentukan mental dan seyogyanya dapat menjadi support system kita. Orang tua, sahabat, pasangan atau bisa jadi professional jika benar-benar kita butuhkan. Jika orang tua  tidak bisa menjadi figur dan bagian dari masa lalu yang pahit, tidak apa mencari sosok lain yang  bisa mendukung kita sepenuh hati dan menerima kita seutuhnya. Significant other bukan orang yang bisa mengendalkan diri kita atau menunjukan jalan hidup yang harus kita lalui. Tetapi, orang yang membuat kita lebih mengenal diri dan menemani kita untuk pelan-pelan menyadari jalan hidup yang baik untuk diri sendiri.

Mengenal dan Menerima

Suatu unfinished business bisa kita sadari  atau tanpa disadari. Ada beberapa hal yang terjadi dalam hidup kita hari ini bisa jadi adalah buah dari trauma masa lalu. Misalnya, ketika saat ini kita bertumbuh dengan karakter yang selalu takut salah dan tidak bisa memutuskan dalam berbicara dan bertindak, bisa jadi merupakan trauma dari pola asuh yang semenjak kecil sering tidak didengar atau dipatahkan argumennya. Pola asuh dan pengalaman hidup di masa lalu memang sangat menentukan karakter yang terbentuk di hari ini. Oleh karena itu, untuk berdamai dengan masa lalu hal yang pertama bisa dilakukan adalah memahami apa yang terjadi di hari ini.

Memahami itu ketika kita benar-benar mengenal apa yang terjadi dalam diri kita, mengetahui karakter yang kita miliki dengan penuh kejujuran dan mengetahui apa yang benar-benar kita yakini dan inginkan untuk menjalani kehidupan. Mengenal diri sendiri bisa dilakukan dengan self-talk dan journaling tentang apa yang sebenarnya selalu dirasakan, dipikirkan dan diingikan. Sikap apa yang selalu muncul, baik positif dan negatif. Berbicara dengan diri sendiri melalui hati, lisan atau tulisan, akan membuat kita jujur pada diri sendiri. Diri sendiri adalah teman bercerita yang setia dan tidak akan pernah menginterupsi apalagi menghakimi.

Mengenal diri akan menumbuhkan kecintaan kepada diri sendiri. Sehingga, kita akan lebih mudah untuk menerima diri kita dengan seutuhnya. Kelebihan, kekurangan, pengalaman pahit, kesalahan dalam hidup dan dosa yang dilakukan bahkan. It’s okay itu bagian dari diri kita. Bagian dari pembelajaran kehidupan yang harus dilewati. Dengan menerima diri seutuhnya, kita bisa lebih berdamai dengan diri sendiri. Memaafkan apa yang terjadi di masa lalu, baik diri sendiri dan lingkungan yang telah membentuk kita menjadi seperti hari ini. Lalu, setelah mencapai tahap itu, kita akan bisa berpikiran positif dengan takdir dan jalan Tuhan, Allah Yang Maha Pengatur Skenario Terbaik. Berpikir positif terhadap takdir-Nya itu harus, tetapi saat kita sudah mencapai tahap penerimaan dengan apa yang terjadi pada diri kita dengan seutuhnya. Sehingga, kita tidak akan lagi terjebak dalam pikiran dan perasaan kita sendiri. Lebih mudah melepaskan dan merdeka, karena dengan penerimaan, berdamai dan mengikuti ketentuan-Nya yang ada dalam diri hanyalah sebuah kebersyukuran akan kehidupan. Oleh karena itu, mengenal diri sendiri adalah hal terpenting agar bisa berdamai dan merdeka dari masa lalu.

3 thoughts on “Mengenal Diri untuk Berdamai”

  1. ah suka dengan tulisan mengenal diri ini. tapi sepertinya saya belum berdama dgn diri sendiri 🙁
    mungkin ada unfinished business yang masih saya tutupi, atau saya belum menerima sesuatu yang sudah jelas terjadi. jadi bikin merenung….

    1. Hallo kak cifer, terimakasih telah membaca dan berbagi. Memang tidak mudah ko untuk beradamai, penerimaan itu adalah perjalanan seumur hidup 🙂 kaka keren kalo sudah menyadari bahwa ada unfinished business yang belum selesai dalam diri, sekarang coba deh mulai terbuka untuk menyadari apa yang terjadi hari ini dan lebih mengenal diri dengan sejujurnya. Pelan-pelan saja. Semangat kita^^

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *