retrospection

Belajar Mindfulness dari Ngaprak

(Sebuah Cerita Perjalanan Tanpa Harapan)

Perjalanan tanpa harapan ternyata menyimpan kejutan. Rangkaian petunjuk diyakini bukanlah kebetulan. Tapi sebuah bukti bahwa alam akan menunjukan arah jalan saat kita mendengarkan. Semesta tidak serta merta meninggalkan saat kita bergegas dengan hati penuh keterbukaan. Penjelajahan yang mengajarkan arti kehidupan bahwa memiliki tujuan memang adalah sebuah keharusan, namun dalam perjalanan menempuhnya adalah tentang melepaskan tanpa harapan, lebih berkesadaran untuk hidup selaras dengan alam.

ant

Hari itu adalah sebuah perjalanan tanpa perencanaan dan tujuan yang jelas. Tanpa ekspektasi besar pula. Ya, sadar diri saja karena perjalanan hari itu dimulai dari ajakan singkat pada malam harinya dan pada pagi harinya pun nyatanya tidak tepat waktu karena bangun kesiangan dan serba mendadak. Menariknya meski dimulai dengan penuh ketidakjelasan, kami tetap melanjutkan niat kami untuk terus melakukan perjalanan dengan sepenuh hati. Kami tidak banyak berekspektasi karena hanya ingin sekadar menikmati.  Pasir Datar Kec. Caringin Kab. Sukabumi adalah sebuah tujuan kami yang sebenarnya kami tidak benar-benar tahu apa yang akan dilakukan di sana dan hanya sekadar ngaprak.

Hutan dan Elang

Setelah makan bubur di pinggir jalan dengan tidak terburu-buru. Masih saja santai dan tidak banyak melihat jam. Kami melanjutkan perjalanan ke Pasir Datar. Perjalanan pertama membawa kami ke sebuah saung di atas bukit, hingga kami berhenti dan mulai menikmati pemandangan hijau sejauh mata memandang.  Di sana ada sebuah jalan setapak dengan plang yang bertuliskan Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Kami memutuskan untuk memasukinya dan berjalan. Tidak ada tujuan, hanya ingin menikmati perjalanan. Sepanjang perjalanan  membicarakan apapun. Kehidupan kampus, organisasi, agama hingga ideologi. Ya, nikmat memang mengobrol dengan hanya mendengar suara dari hutan dan disekelilingi pohon dan semak rapat di sekitar. Ditambah sinyal ponsel sudah mulai berkurang. Kami duduk di antara semak belukar dan pohon rindang. Menghirup aroma tumbuhan yang beraneka ragam dan menikmati suara serangga yang saling bersautan. Tidak tahu pasti berapa lama kami mengobrol,  kami keluar dari kawasan hutan dan kembali ke saung di atas bukit tadi. Kami berkumpul di saung dan berfoto sebentar. Tiba-tiba salah satu teman melihat adanya sepasang elang yang terbang memutar. Kami langsung menonton, rasanya sekarang melihat elang terbang itu moment yang jarang. Apalagi di kota dengan gedung tinggi pencakar langit. Mana sudi mereka terbang di sana. Tak lama kami melihat akhirnya kami melanjutkan perjalanan.

Wisata Tersembunyi

Lagi lagi tak ada tujuan. Hanya mengikuti jalan yang sesuai dengan intuisi. Dari atas bukit kami melihat ada sebuah pemukiman warga di lereng bukit. Tanpa berpikir panjang kami pergi dan bertanya-tanya ke masyarakat sekitar yang kami temui sepanjang jalan untuk menuju pemukiman tersebut. Dengan hanya menikmati alam sekitar akhirnya kami sampai di pemukiman tersebut dan bertemu dengan seorang pemuda yang berkata  “bade ka balong? teras we lurus kaditu engkin aya parkiran” (mau ke balong? lanjut saja lurus nanti di sana ada parkiran). Kami yang tanpa tujuan, tidak tau pasti apa itu balong. Kami memutuskan untuk mengamini pemuda tersebut dan kami sampai di sebuah parkiran. Berbincang sebentar ternyata balong adalah tempat wisata.

Baiklah, kami dengan prinsip ‘hayulah, mumpung disini’ akhirnya memasuki kawasan wisata tersebut.  surprise! ternyata kawasan wisata tersebut adalah wisata yang dikelola oleh masyarakat sekitar dengan binaan TNGGP. Masyarakat yang ramah dan tempat wisata yang apik serta bersih membuat kami cukup berlama-lama disana. Berbincang cukup lama. Menikmati beberapa spot. Lucu sekali, modern tapi seluruh spotnya benar-benar menggunakan bahan yang berasal dari alam, kreatif banget orang sini. Menghirup udara yang segar, menikmati aliran air sungai yang dingin dan jernih. Sempurna. Kami berfoto di rumah pohon, bermain di sepeda air dan ayunan, bercanda gurau di sungai.

Lembur Asri dan Tentram

Waktu menujukan pukul 11.41 WIB, finally untuk pertama kali melihat jam. Kami pun memutuskan keluar untuk membeli jajanan di sebuah rumah yang saat berangkat kami temui. Ntah mengapa, melihat rumahnya saja sudah nyaman dan damai. Apalagi berdiam di sana. Benar saja! Kami pun memesan semangkuk mie dan bakso sembari menikmati hamparan hijau nan udara sejuk yang menusuk. Sebuah tempat yang merepresentasikan lembur yang asri dan penuh ketentraman. Kami yang mendadak diam sejenak, menghirup udara dan mengosongkan pikiran saat itu hanya ingin bersyukur telah dipertemukan dengan di hari itu.

Kami makan dan mengobrol dengan ibu warung yang memiliki rumah tersebut. Pembicaraan yang cukup panjang, dimulai dari keluh kesah masyarakat dan berbagai informasi mengenai daerah tersebut hingga memberikan kami sebuah informasi bahwa ternyata di daerah tersebut masih ada lokasi peninggalan orang Belanda, katanya. Tidak tahu pasti siapa gerangan orang Belanda tersebut. Ibu itu hanya menujukan arah. Setelah makan dan numpang Shalat Dzuhur kami melanjutkan perjalanan.

Capung dan Penemu Elang Jawa

Seperti biasa sepanjang perjalanan kami bertanya-tanya kepada masyarakat mengenai lokasi yang ditunjukkan ibu warung. Setelah kami sampai di lokasi yang dituju, dari depan tampak banyak orang di sana. “Oh, pohon damar aja.” Awalnya kami ingin bergegas pergi saja. Kami bertanya kepada teteh yang berjaga warung, dia bilang keberdaan peninggalan orang Belanda itu, yaitu museum elang jawa katanya. “Mumpung di sini”. Kami pun memasuki kawasan tersebut. Bertanya ke pemuda yang menjaga di pintu utama kawasan wisata mengenai museum yang dimaksud. Kami ditunjukan ke sebuah jalan setapak. Menemukan dua jalan. Jalan yang pertama kami coba adalah jalur kiri yang ternyata memasuki wilayah pemukiman. Salah! Tapi tak apa, salah satu teman kami kebetulan ingin buang air, dia akhirnya menuju mushola di pemukiman tersebut. Balik lagi menuju pertigaan di jalan kami dengan sedikit sungkan memberhentikan motor seorang bapak dan bertanya mengenai keberadaan museum. Ternyata mengenai museum elang jawa yang dimaksud teteh warung dan pemuda yang jaga di depan itu belum dibangun, jika yang dimaksud museum dan makam orang Belanda itu yang ibu warung sampaikan itu memang ada, katanya. Kami ditunjukkan jalan lain oleh bapak tersebut. Kami memutuskan memasuki jalan setapak jalur kanan di pertigaan tadi. Menikmati perjalanan dan mendapat kejutan lagi dengan bertemu berbagai jenis capung yang berwarna-warni, biru, hitam dan hijau. Jujur baru kali ini kami bertemu variasi capung sebanyak itu. Kami mengambil foto sejenak dan kembali melanjutkan. Intuisi kami secara bersamaan menunjukan bahwa sepertinya kami salah jalan. Kami akhirnya memutuskan untuk kembali di pintu utama kawasan dan memasuki sebuah jalan yang cukup lebar dengan plang TNGGP. Kali ini kami tidak mengikuti saran pemuda yang berjaga, hanya mengikuti intuisi. Kami berjalan dan di sepanjang jalur tersebut ada banyak papan informasi bersambung yang menjelaskan mengenai metode rehabilitasi hutan di sana yaitu metode Miyawaki yang ditemukan oleh Akira Miyawaki dari Jepang. Papan informasi selanjutnya mengenai seorang tokoh Belanda yang menemukan elang jawa hingga kami sampai di sebuah bangunan terkunci. Setelah kami intip tenyata itu adalah bangunan yang berisi berbagai informasi tokoh-tokoh yang berkontribusi dalam pelestarian hutan di sana termasuk penemu metode Miyawaki dan elang jawa. Cukup belama-lama di sana. Kami melanjutkan perjalanan ke makam penemu elang jawa yang sebelumnya sempat ditunjukan oleh bapak yang kami temui saat kami salah jalan. Hanya 100 meter dari bangunan museum kami menemukan makam, berziarah dan berfoto di sana.

Titik Terang dari Perhutani

diskusi dengan perhutani

Amazing! Menemukan berbagai tempat dengan petunjuk-petunjuk yang terstruktur. Meski beberapa kali salah jalan, tapi  kami tidak merasa mendapat kerugian. Kami pulang dan melewati sebuah Resot Perhutani. Memutuskan berhenti, niatnya hanya bertanya mengenai museum tadi. Lagi-lagi, tanpa banyak berekspektasi malah kami diajak berdiskusi. Akhirnya kami mengetahui mengenai sejarah penemu elang jawa, museum yang kami temui tadi, jenis-jenis flora dan fauna endemik di sana hingga membicarakan karier di perhutani. Petugas yang ramah dan terbuka membuat kami ingin kembali ke sana untuk bisa masuk ke museum yang terkunci tadi. Kalo mau masuk ke museum akan dikawal dengan senang hati dari perhutani, katanya. Penawaran yang menarik, mungkin lain kali. Kami akhirnya berpamitan dan pulang dengan pikiran yang terisi dan hati penuh kebahagiaan.

Belajar Mindfulness dalam Perjalanan

Mindfulness adalah sebuah keadaan kita menyadari di moment dan waktu sekarang (paying attention in the present moment). Tanpa disadari perjalanan tersebut melatih kami untuk lebih mindful. Kejadian di pagi hari yang ngaret dan bangun kesiangan tidak menjadikan kami akhirnya menjadi badmood. Kami memaafkan segala keterlambatan dan hanya berfokus pada saat itu. Memfokuskan kejadian pada yang sedang dilakukan. Secara tidak langsung, tidak menyalahkan diri sendiri dan orang lain. Hal itu sebagai bentuk mencintai diri.

Flower Power, Hidup Lebih Slow

Buku Calm dr. Arlene K. Unger

Selama penjalajahan kami hanya membawa pikiran dan hati kosong tanpa membayangkan dan berekspektasi akan mendapatkan sesuatu. Hal ini membuat kami tidak terlalu banyak melihat jam, sehingga akhirnya menjadikan segala aktivitas yang dilakukan menjadi lebih slow dan tidak terburu-buru. Hal tersebut merupakan salah satu konsep “Flower Power” yang disampaikan oleh dr. Arlene K. Unger dalam buku series Calm (Mindfulness Execises) bahwa slowing down adalah salah satu konsep mindfulness yang membantu kita untuk bijak dalam menggunakan waktu. Kita membutuhkan tanda untuk mengingatkan kita untuk hidup lebih pelan-pelan.

Interconnectedness dalam Hidup

Mindfulness mengajarkan kita untuk hidup lebih sadar. Sadar dengan apa yang dirasakan, dipikirkan, dilihat, dikatakan dan dilakukan. Untuk menumbuhkan sinergitas dan koneksi antara hati dan pikiran. Ingat saat kami melihat elang? Kami dengan antusias memang memperhatikan dan mendengar suaranya. Tanpa disadari membawa kami melakukan penjelajahan hingga menemukan sejarahnya dengan ketidaksengajaan. Seyogianya dalam hidup ini tidak akan ada yang benar-benar terjadi kebetulan, bukan? Hal ini sebagaimana dalam konsep hidup interconnectedness yang disampaikan oleh Henry Manampiring dalam sebuah buku Filosofi Teras bahwa naluri manusia yang menggunakan nalar dan turut cenderung hidup sosial menunjukan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini ada keterkaitan satu sama lain atau disebut interconnectedness. Segala keputusan yang diambil, segala kejadian yang menempa kita tidak akan ada yang benar-benar terjadi kebetulan. Karena kembali lagi ‘hidup selaras dengan alam’ menyadari bahwa setiap kejadian adalah konsekuensi dari mata rantai peristiwa hidup yang sangat panjang, yaitu gabungan banyaknya peristiwa dan keputusan-keputusan yang diambil para pelaku hidup di sekitar kita. 

Stoa, Selaras dengan Semesta

Perjalanan tersebut membuat kami belajar pada sebuah kebijaksanaan dalam hidup. Lebih terbuka kepada masyarakat, mengobrol dengan siapapun dengan penuh keterbukaan, mempercayai siapapun tanpa harapan. Meski saat itu sempat ‘merasa dibohongi’ oleh pemuda di situ saat kami tersesat di jalur yang salah. Namun, rasanya itu tidak salah-salah banget, karena pada akhirnya kami bertemu dengan sekelompok capung yang berwarna-warni. Hal ini menunjukan apa yang terjadi dalam diri kita sebenarnya tergantung pada bagaiamana perspesi kita pada permasalahan tersebut. Sebagaimana dalam prinsip utama filsafat stoisisme yang disadur dari buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring bahwa kita harus hidup selaras dengan alam (in accordance with nature). Stoisisme atau stoa adalah sebuah konsep filsafat yang sudah ada sejak 2000 tahun yang lalu yang hingga kini masih relevan unruk diimplementasikan. Konsep stoa berarti jalan hidup yang lebih mengedepankan penafsiran kita pada sesuatu hal, baik yang tergantung pada kita maupun tidak. Konsep stoa menekankan bahwa hidup selaras dengan alam dengan menyadari bahwa ada satu hal yang membedakan manusia dengan makhluk yang lainnya, yaitu nalar, akal sehat, rasio dan kemampuan untuk menggunakan hidup dalam kebajikan (virtue). Banyak yang menyalahartikan bahwa rasionalitas membuat manusia semakin angkuh dengan lingkungan sekitar karena mengesampingkan perasaan. Padahal fitrahnya, manusia yang menggunakan nalarnya akan lebih bijaksana dan dapat mengendalikan perasaannya karena mereka meyakini bahwa perasaan berawal dari persepsi nalar yang bisa kita kendalikan.

Perjalanan Tanpa Harapan

Ngaprak, sebuah perjalanan menyimpan berbagai pelajaran. Perjalanan tanpa harapan ternyata menyimpan kejutan. Rangkaian petunjuk yang diyakini bukanlah kebetulan. Tapi sebuah bukti bahwa alam akan memberikan petunjuk saat kita mendengarkan. Semesta tidak serta merta meninggalkan saat kita berangkat dengan hati penuh keterbukaan. Penjelajahan yang mengajari arti kehidupan bahwa memiliki tujuan memang adalah sebuah keharusan namun dalam perjalanan menempuhnya adalah tentang melepaskan tanpa harapan, lebih mendengarkan dan memperhatikan untuk hidup selaras dengan alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *